Pengantar Manajemen Strategi
| Pengantar Manajemen Strategi |
Perencanaan Strategis
Pimpinan suatu orgnisasi, setiap hari berusaha mencari kesesuaian antara kekuatan-kekuatan internal perusahaan dan kekuatan-kekuatan eksternal (peluang dan ancaman) suatu pasar. Kegiatannya meliputi pengamatan secara hati-hati persaingan, peraturan, tingkat inflasi, siklus bisnis, keinginan dan harapan konsumen, serta faktor-faktor yang dapat mengidentifikasi peluang dan ancaman.
Oleh karena tersebut sebuah perusahaan dapat mengembangkan strategi untuk mengatasi ancaman eksternal dan merebut pelung yang ada. Proses analis, perumusan dan evaluasi strategi-strategi itu disebut perencanaan strategis. Tujuan utama perencanaan strategis adalah agar perusahaan dapat melihat secara obyektif kondisi-kondisi internal dan eksternal, sehingga perusahaan dapat mengantisipasi perubahan lingkungan eksternal. Dalam hal ini dapat dibedakan secara jelas, fungsi manajemen, konsumen dan pesaing. Jadi perencanaan strategis penting untuk memperoleh keunggulan bersaing dan memiliki produk/jasa yang sesuai dengan keinginan konsumen dengan dukungan yang optimal dari sumber daya yang ada (Rangkuti, 2005:2-3).
Konsep Strategi
Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan. Dalam perkembangannya konsep mengenai strategi terus berkembang. Hal ini dapat ditunjukkan oleh adanya perbedaan konsep mengenai strategi selama 30 tahun terakhir, untuk jelasnya dapat dilihat pada perkembangannya berikut ini (Rangkuti, 2005:3-4) : Menurut Chalder (1962), strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut, serta prioritas alokasi sumber daya. Sementara itu Learned, Christensen, Andrews, dan Guth (1965) menyatakan bahwa strategi merupakan alat untuk menciptakan keunggulan bersaing. Dengan demikian salah satu fokus strategi adalah memutuskan apakah bisnis tersebut harus ada atau tidak ada.
Pada perkembangan selanjutnya Porter (1985) menjelaskan tentang strategi, yaitu alat yang sangat penting untuk mencapai keunggulan bersaing, dan 10 tahun kemudian Hamel dan Prahalad (1995) juga menyatakan bahwa strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus menerus dan dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan di masa depan. Dengan demikian perencanaan strategi hampir selalu dimulai dari “apa yang dapat terjadi”, bukan di mulai dari “apa yang terjadi”. Terjadinya kecepatan inovasi pasar baru dan perubahan pola konsumen memerlukan kompetisi inti.
Pemahaman yang baik mengenai konsep strategi dan konsep-konsep lain yang berkaitan, sangat menentukan suksesnya strategi yang disusun. Konsep-konsep tersebut adalah sebagai berikut (Rangkuti, 2005:5-6) :
a. Distinctive competence : tindakan yang dilakukan oleh perusahaan agar dapat melakukan kegiatan lebih baik dibandingkan pesaingnya.
Suatu perusahaan yang memiliki kekuatan yang tidak mudah ditiru oleh perusahaan pesaing dipandang sebagai perusahaan yang memiliki “distinctive competence”. Distinctive competence menjelaskan kemampuan spesifik suatu organisasi. Day dan Wensley (1988) mengemukakan ada dua identifikasi distinctive competence dalam suatu organisasi, yaitu :
- Keahlian tenaga kerja
- Kemampuan sumber daya
Dua faktor tersebut menyebabkan perusahaan ini dapat lebih unggul dibandingkan dengan pesaingnya. Keahlian sumber daya manusia yang tinggi muncul dari kemampuan membentuk fungsi khusus yang lebih efektif dibanding dengan pesaing.
b. Competitive advantage : Kegiatan spesifik yang dikembangkan oleh perusahaan agar lebih unggul dibandingkan dengan pesaingnya.
Keunggulan bersaing disebabkan oleh pilihan strategi yang dilakukan perusahaan untuk merebut peluang pasar. Ada tiga strategi yang dapat dilakukan perusahaan untuk memperoleh keunggukan bersaing yang dinyatakan oleh Porter (1992), yaitu :
- Cost leadership
- Diferensiasi
- Fokus
Perusahaan dapat memperoleh keunggulan bersaing yang lebih tinggi dibandingkan dengan pesaingnya jika dia dapat memberikan harga jual yang lebih murah dari pada harga yang diberikan oleh pesaingnya dengan nilai /kualitas produk yang sama. Perusahaan juga dapat melakukan strategi diferensiasi dengan menciptakan persepsi terhadap nilai tertentu pada konsumennya misalnya, persepsi terhadap keunggulan kinerja produk, pelayanan yang lebih baik. Selain itu strategi fokus juga dapat diterapkan untuk memperoleh keunggulan bersaing sesuai dengan segmentasi dan pasar sasaran yang diharapkan.
Tipe-tipe Strategi
Pada prinsipnya strategi dapat dikelompokkan berdasarkan tiga tipe strategi yaitu, strategi manajemen, strategi investasi, strategi bisnis (Rangkuti, 2005:7).
a. Strategi Manajemen
Strategi manajemen meliputi strategi
yang dapat dilakuakn oleh manajemen dengan orientasi pengembangan
strategi secara makro misalnya, strategi penerapan harga, strategi
akuisisi, strategi pengembangan pasar, strategi mengenai keuangan, dan
sebagainya.
b. Strategi Investasi
Strategi ini merupakan kegiatan yang
berorientasi pada investasi. Misalnya, apakah perusahaan ingin melakukan
strategi pertumbuhan yang agresif atau berusaha mengadakan penetrasi
pasar, strategi bertahan.
c. Strategi Bisnis
Strategi bisnis ini sering juga disebut
strategi bisnis secara fungsional karena strategi ini beroriantasi pada
fungsi-fungsi kegiatan manajemen, misalnya strategi pemasaran, strategi
produksi atau operasional, strategi organisasi.
Sumber :
Freedy Rangkuti, 2005, Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Dirgantoro, 2002, Keunggulan Bersaing, PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia, Jakarta

0 komentar